Jumat, 09 Juni 2017

Ups, Salah Target! (Mau Berbuat Baik, Malah Nangis)

Kadang punya niat baik aja bisa bikin fatal, apalagi niat jahat ya, guys. Salah menaruh rasa peduli, misalnya.

for example, orang yang kita peduliin merasa risih dan enggak butuh sama bentuk respect kita. Padahal udah berusaha baik tuh, eeeh responnya enggak sesuai harapan. Sakit? wooojelash. Bukan bermaksud butuh balasan berupa pujian dan haus akan terima kasih, tapi orang baik dan bijaksana tentu tahu bagaimana cara membalas kebaikan orang lain. Meskipun merasa itu bukanlah hal yang begitu penting.

hey, open your mind. Buka celah pikir sedikit. You have to know this. manusia sudah terlahir sebagai makhluk yang enggak bisa hidup sendiri. So, bagaimana cara biar selalu berada dalam lingkungan orang baik? ya caranya adalah berbuat baik, dan menghargai orang yang berlaku baik padamu.

Coba deh bayangin. Bagaimana sih rasanya, kalau kamu baik sama orang, tapi orang itu enggak peduli? kecewa? of course. But, disitulah cara Allah menguji kita sampai mana bentuk kesabaran pada diri dan sampai mana pula kekuatan kita diuji, meskipun dalam berbuat hal baik sekalipun.

Tuh, Allah tuh maha baik. Pas kamu jahat, eh masih aja Allah kirimkan orang baik untuk kamu.

Eits, jangan kecewa juga buat yang dijahatin meskipun udah baik. Allah itu maha adil, guys. Pokoknya, kalau kamu baik, pasti ada aja balasan kebaikan yang berkali lipat, begitu pun sebaliknya. Kalau kamu jahat, yaaa siap-siap aja dijahatin balik.

Kalau pun di dunia udah sering jahat tapi Allah masih tetap baik, yaaa balasannya di akhirat. Tinggal tunggu waktu. eh tapii, aduuuh, naudzubillahiminzalik. Semoga kita bukan termasuk orang-orang yang jahat dan tidak bisa menghargai sesama yaa.

FYI, Aku nulis ini bukan berarti aku masuk dalam golongan baik, ataupun golongan jahat. Enggak ada unsur menyinggung kok. Sharing enggak dosa, toh? Selama enggak merugikan siapa pun.

Sooo, baper memang tida baik ya guys. Bisa mengakibatkan tangan bisa berbicara. Ini nih buktinya. wkwkwk. Tiba-tiba aja tangan pengin nulis.

Yha mungkin tangan lebih mengerti, bahwa mulut sudah tak mampu lagi mengutarakan.

PS: Terkadang, melihat siapa target kebaikanmu memang penting. Jadi, sebelum mau berbuat baik, lihat-lihat dulu siapa orangnya. Kalau orangnya enggak butuh dan enggak peduli, mending cari target lain, guys. Masih banyak orang yang lebih bisa menghargai kebaikanmu.
Hehehe.


Rabu, 17 Mei 2017

Moodie, Normal Enggak, sih?

Bete

Nasib jadi orang moodie.
Mood bisa ke-swing kapan aja dan dimana aja.
Dan parahnya lagi, kalau udah bt banget, suka enggak bisa control diri sendiri.
Misal nih, ada aja ya orang suka comment di ig, fb, line, or else, yang enggak enak bgt dibaca. Kalau di ig, biasanya sih nanggepin insta story.

Nah, kalau ada org yg aku rasa annoying bgt, aku enggak akan balik ganggu apalagi menghina mereka (karena ini bukan aku banget) aku memilih untuk langsung main block. Hal ini sudah kulakukan sejak punya Facebook sekitar delapan tahun silam, yakni 2009. Nah, tiap lihat profil orang yang enggak jelas, apalagi suka inbox yg super annoying like "helo, wru dear, hi beautiful, kenalan yuk" sumpah, aku langsung block itu orang.

FYI, dalam sehari aku bisa unfol temanku sendiri. Kalau gak suka, aku langsung unfol ataupun block. So simple.

Hal itu pun berlanjut sampai sekarang sudah kuliah. Emosi yang enggak jelas begitu berlanjut dan susah hilang sampai sekarang. Kalau mau melakukan sesuatu, sulit banget kalau enggak dilakukan. Bahkan, kalau sesuatu yang aku mau enggak terkabul, aku bisa bt dan enggak ngomong sama orang sekitar, hal itu bisa bertahan sampai satu minggu. Enggak percaya? Keluargaku di rumah adalah saksinya. Aku bisa enggak teguran sama mereka, bahkan aku pernah enggak teguran sama saudara sendiri hampil dua bulan lamanya. Sama orangtua juga pernah. Itu cuma ngambek. Gimana kalau musuhan? Parah? Iya, banget. Dosa? Udah pasti.

Egois? Hmmmmmm enggak juga sih.
Tiap orang kan beda-beda.
Dan aku mengakui kelemahanku di sini.
Punya tipe kepribadian yang enggak suka banget sama keribetan, seperti klarifikasi.
Dari kecil, aku selalu punya pemikiran kalau setiap orang punya otak untuk menganalisa apa yang orang lain inginkan.
So, aku bertindak seperti semua orang tahu apa yang aku pikirkan, tanpa kuberi tahu apa maksudku. 

Jadi gini, kalau ada yang nganggap aku salah, aku paling enggak suka untuk klarifikasi. Aku lebih milih buat jawab "oh iya, sengaja, tau kok, yaudahsih," padahal mereka gatau, aku punya tujuan lain. 

But, balik lagi. Aku moodie.
Kalau aku dibilang salah, aku bisa aja klarifikasi sampai orang lain itu merasa sangat salah. Sampai orang lain itu tau maksudku, sampai orang lain itu minta maaf. Bisa banget. Nah, kalau sudah sifat yang begini yang keluar, itu lagi emosi.

Jahat? Enggak dong.
This is me.
Aku juga bukan orang yg tegaan. Hatiku gampang sekali teriris. Tapi enggan untuk kuperlihatkan. Kenapa? Karena itu enggak penting.

Orang lain enggak butuh informasi tentang kamu, kecuali kamu terkenal, kaya, dan sedang membutuhkanmu.

Bicara soal teman, Alhamdulillah aku punya banyak teman yang baik dan mengerti. Aku apresiasi banget sama teman yang mengerti kalau mukaku dari sananya emang jutek. Banyak banget orang yg suka ngomong di belakang, "fira yang jutek tu kah?" Wkwkwk. Kebiasaan judging buku dari cover. Ndik faeda.

Sombong? Anti.
Sebisa mungkin aku tanamkan ilmu padi dalam diri. Keluargaku bukan orang kaya, apa yang perlu disombongkan? Aku bukan anak pintar, jago ngomong, juara sana sini, punya knowledge yg luas, cantik juga enggak, trus apa yang perlu disombongkan? Cuma bikin malu doang.  
Aku cuma punya pilihan hidup sendiri. Enggak suka diatur. Orangtua dan saudaraku adalah manusia yang paling mengerti. Dari kecil, mereka enggak pernah ngatur aku. Bahkan bisa dibilang 'enggan'. Kenapa? Ya karena aku enggak suka ngatur mereka, apalagi orang lain. Hahaha! 

Sempat kepikiran "sampai kapan jadi begini?" Ya mau gmn ya. Udah doyan sih jadi begini. Menurutku, jadi diri sendiri itu lebih penting. Daripada harus pencitraan sana sini tebar quotes sana sini tebar perubahan dalam diri sana sini ngurusin orang sana sini, tapi sekali ditegur menciut juga. Yha udha lha yha. 

Be yourself and you'll be fine.

Bapak pernah bilang, kamu enggak perlu dengarin perkataan org lain kalau mau maju. Kalau mau tetap di situ, yaaa dengarin aja perkataan semua orang. 

Intinya, mau seperti apa dirimu, itulah dirimu. Asal kamu enggak pernah ngerepotin hidupnya, hidupmu masih normal kok. Selama kamu enggak menjerumuskan mereka ke hal yang buruk, hidupmu masih baik. 

Jadi aja dirimu sendiri, meskipun orang lain enggak suka. Enggak penting juga mereka suka apa enggak. Berat ringannya amal pas ditimbang juga masing-masing kok, majunya sendiri-sendiri, enggak bareng-bareng gerombolan kayak genk yang berkuasa di sekolah. 

"Yaa cari saja jalan surgamu sendiri. 
Temukan di mana zona nyamanmu.

Tapi jangan jadi orang yang enggak berguna."

Rabu, 05 April 2017

Ninja Hatori. Lewati Hujan Sebrangi Banjir.

Bp: Bapak-bapak
FC: Fira Cantik

Jadi, tadi jam 11 lewat baru plg ke rumah karena hujan br reda. setelah nyampe dr.sutomo, bingung ko gada org y. sepi bgt parah mana gelap. dan apesnya si FC enggak pake kacamata. ya mana keliatan klo di depan sana ada banjir sedalam rasa cinta ini padaNya.

BP: mba muter aja mba, banjirnya dalam banget
FC: ...***dalam hati: pak, ini ud mlm kl muter lg yaa Allah nyampe jamber mana pelan bgt bw mtr klo malem. everything is blur, pak***

dan akhirnya BP itu ga peduli dan aku juga. jadi kita smsm ga peduli.
FC terjun bebas dan akhirnya jebreeet. motor FC mati di genangan air coklat keemasan itu.

lalu gada yg nolong. ebuset.
berasa terdampar di suatu pulau.
gada org. gelap. sejauh mata memandang hanya ada air yg bergelinang mesra menyelimuti jalan raya itu.

Lampu merah lembuswana masih jauh. jauh bgt. e bentar, jauh bgt atau ni mata yg burem, gatau. beda tipis aja pokoknya.

trs akhirnya motor mau nyala lg, terjang lagi. terjang terjang terjang sosyal.
dannn motor mati lg.
saking uda tenggelam bgt.
bayangkan gaes, FC sudah cuci sepatu dengan susah payah nunggu keringnya karena hujan terus. pada akhirnya sepatu itu harus terjatuh dalam pelukan sang samudra dadakan (baca: banjir)

Yauda, nyalain lg. nyala lg tu motor.
alhamdulillah, all praise be to Allah.
Dan akhirnya sebentar lg nyampe lampu merah guys.
Ga sabar bgt pengin nyampe sana.

brum brum brum

tittttt tittttt *eh ko jorok....

engga, itu ga jorok. itu suara klakson.

FC mau ditabrak mobil guys.
gara2 ga nyadar klo lg di lampu merah.
Trus diteriakin deh ma tu org yg didalem mobil.
ehehehe.
aduh pak.
kl bpk jd saya, emg bpk mau berenti di jalan gelap, gada org, sendirian, dan tenggelam di banjir? lagian saya pelan pak. saya nyadar mobil situ mau lewat. saya uda berenti loh. knp ya ko di klaksonin ga nyante gitu. aduh pak. situ enak pake mobil pak. lah saya keujanan nih pak, ehehe gmn dong. untung td saya cuma sekadar aduh aduh aduh doang ya pak, kl huruf d nya geser dikit typo ke kiri, jadi nyumpah saya pak. hehe.
Alhamdulillah smg tu bapak td yg neriakin dengan niat bgt sampe buka kaca jendela dan ngeluarin wajah gantenknya di tengah hujan2 begini, taon dpn naik haji, ajak saya jg pak. Hehe.
asal bpk tau y pak, lagian td di jalan sebesar itu cuma ada kita bedua pak. mesra bgt ga tuh? harusnya bpk paham dong ya saya perempuan dan sendirian, naik mtr ujan2an, nerjang banjir. tp yaudala ya ga minta dikasihanin jg sih wekwekwekhahahahaa.

oke lanjut.
ternyata, banjirnya msh panjang guys.
yaudalah yaa rok udh basah
motor uda tenggelam setengah
blm lg kepala berat bgt efek minum obat
ngantuk
penginnya tdr aja

yo. this is Samarinda.
Jalanan gelap, banjir, dan pemarahan.

Tp gpp. empat tahun tinggal di Smd mengajarkanku apa artinya kenyamanan guring dirumah seharian ketika hujan.
mengajarkanku nikmatnya bolos ketika hujan di pagi hari.
dan mengajarkanku arti menunggu banjir surut selepas hujan datang.
nunggu banjir surut yg ga jelas kapan surutnya aja shanggup, apalagi kalau disuruh nunggu kamu.

Duuuuuuyyyyy lanji banar..

tp Alhamdulillah, akhirnya FC nyampe rumah dgn selamat dan basah basah manja.
Alhamdulillah, semakin sering kehujanan di jalan, semakin banyak doa org yg terkabul.
So, guys, kalau lg di jalan, trs kehujanan, jgn lupa berdoa. doa ap aja deh.
in sya Allah, doa org ketika hujan turun (apalagi yg kehujanan), bakal cpt di accept tuh sama Allah.
aamiin.

jd kl ujan jgn kebanyakan ngeluh.
kl gabisa ke sekolah, kampus, kerja, atau kmna pun krna hujan, jgn disalahin hujannya. kasian.
doi dtg bawa berkah gaes, masa malah disalahin.
bayangin aja ketika km datang ke seseorang yg km sukai, eh tp malah ditolak mentah2, ga enak KAAAANNN???? JAWAAAABBBV!!! GAK ENAAAKKK KAAANNNN!!tuh makanya. Gaenak. Sampe typo nulisnys.

bersyukur kl hujan. bnyk berkahnya.
kl gabsa k skolah/kampus, yauda sih bobo aja enaaaaaaaaaaa. makan mie rebus pake telor cabenya dua jg ena.

hidup dinikmati aja guys
jgn ribet kayak panitia.
jgn laper rese kenyang bego. (ini ga nyambung)
smuanya hrs disyukuri.
karena smua ada hikmahnya.
hehhehe

Udh gt aj. mksh










Kamis, 09 Maret 2017

Oh, Gojek


Eits. Tulisan ini cuma untuk curhat. Bukan untuk profokasi, ya! he-he

Sebagai warga Samarinda yang tak pernah luput dari update-an BUSAM di Facebook, pastinya sudah pada tahu, kan, beberapa hari yang lalu para supir angkot melakukan demo untuk menghentikan oprasi gojek di Kalimantan?

Sebagai pengguna Gojek dan Go-Food, and also sebagai mahasiswi yang bisanya cuma curhat di blog, aku pengin sedikit berbai cerita lagi tentang pengalaman selama menggunakan gojek.

Oke, mulai dari sangat awal sekali.

Aku pertama kali naik gojek itu, waktu di Jakarta. Berhubung di sana macet dan angkot apalagi Kopajanya serem, jadi aku memutuskan untuk naik gojek sajalaah~ Fyi, Saat itu di Kalimantan belum ada Gojek. Kesan pertama kali, Subhanallah, baik banget abang gojeknya.
Waktu itu, aku mau ke Kota Kasablanka. Enggak jauh-jauh banget dari tempatku, yaitu di Menteng Atas. Abang Gojek tiba-tiba datang menghampiri "Ini mbak Fira, ya? Maaf ya mbak, saya enggak pakai kostum ala gojek. Soalnya takut diisengin sama abang-abang yang lain (baca: tukang ojek di pangkalan)" Ujar si Bapak yang aku lupa siapa namanya. Tanpa berlama-lama, aku langsung pakai helm yang diberi oleh si Bapak dan cuuuuus ke Kokas. Dalam perjalanan yang sebentar itu, Bapak sempat cerita tentang bagaimana keadaannya. Beliau harus terus menyembunyikan jaket dan helm hijaunya untuk mencari aman. "Padahal kan, rejeki mah udah di atur ya neng. Enggak ada salahnya kalau ada gojek. Lagian, banyakan juga yang minat sama kita-kita karena lebih murah. Tapi, ya namanya juga mereka yang ada duluan, ya udah deh. Istilahnya mah, mereka udah senior," tambah si Bapak.

To be honest, aku iya-iya-in aja tuh si Bapak. Padahal, ya Allah, kasian banget dah. Nyari duit gini amat.

Oke, lanjut cerita ke-dua. Masih di Jakarta.
Dan masih sama, di Mentas. Namun kali in tujuannya ke Tebet. Aku pesan Gojek dan menunggu di Rasuna Office Park. Enggak butuh waktu lama menunggunya, tetiba si abang Gojek datang. Aku masih inget banget namanya itu Arif. Soalnya, doi masih muda, masih kuliah, katanya. So, enggak mau dipanggil abang. Ew genit amat-_-. sekip. Lanjut pada cerita si Arif. Begini percakapannya,

Note: Si Arif emang rada genit dan sok akrab
A: Arif
FC: Fira Cantik

***
A: Ini Fira, ya?
FC : Iya, bang.
A: Oke, pakai helmnya dulu, Fir.
FC: (ebuset uda manggil nama aje ni orang, sokap lu? haha) Oke, bang *lalu naik motor*
A: Fira kuliah disini?
FC: Enggak, bang. Lagi liburan aja.
A: Oh, aku masih kuliah, Fir. Jangan panggil abang. Panggil nama aja
FC: Oh, iya.
A: Ngapain ke Tebet?
FC: Ketemu temen
A: Ohh, maaf yah Fir banyak tanya. Biar enggak BT gitu. Jauh soalnya.
FC: Lah iya enggak papa. Sudah lama jadi gojek?
A: Baru lima bulan nih. Lumayan buat bayar SPP
FC: Ohh gitu, kiran udah lama
A: Baru Fir, ini juga terpaksa. Kalau banyak duit mah kerjanya 'ngegedung' bukan 'ngegojek'.
FC: *ketawa* *padahal sedih* *lalu diem*

PS: Ya mungkin dari tanda kutip itu, kalian bisa mengerti maksud Arif ya.
Akhirnya sampai pada tujuan. Yaitu di Taman Honda Tebet. Waktu itu mau ketemuan sama si Riva. Tapi Riva beluman dateng. Terus si Arif bilang "Eh ini aku tinggal ya. Hati-hati jangan nyasar". Terus akhirnya aku mikir. Sebelum jadi driver gojek itu, harus dilatih jadi baik, ya? atau emang mereka pada baik? atau, gimana sih? au ah. Intinya mereka pada baik.

Sebenarnya, masih banyak pengalaman menarik waktu naik Gojek. Tapi, di Jakarta aku lebih sering naik Grab Bike dan Grab Car. Karena ini cerita tentang gojek, yauda ceritanya tentang gojek aja. hahaha.

Naaah sekian lamanya waktu berjalan, akhirnya tibalah Gojek di Samarinda.
YEAAAY! Senang banget ketika mendengar kabar tersebut. Karena, semenjak ada Gojek, aku enggak perlu repot lagi kalau kemana-mana. Khususnya saat mau pulang ke Sangatta. Yang biasanya harus dempet-dempetan di angkot untuk menuju terminal Lempake, belum lagi om supirnya mutar-mutar dulu masuk gang untuk nganter penumpang, sekarang bisa jadi cepat nyampe Lempake.

Kedua, senang karena akhirnya ada yang mem-fasilitasi ke-mager-an ku. (Baca: GoFood).
Tahu sendiri ya, kalau ciwiciwi suka magerita manja mau beli makan keluar. Apalagi yang berjilbab, harus pakai celana/rok panjang dulu, baju lengan panjang/jaket dulu, dan jilbab dulu. Eits! bukan berarti jilbab ini ngeribetin, ya! Ini kan, posisinya lagi mager. Hehe. Jadi, apa-apa serba mager. Hehe.

Aku punya dua kejadian tak mengenakkan selama naik Gojek di Samarinda. Bukan karena ulah Gojek, namun karena 'diisengin'. Satu adalah ceritaku, dan satunya adalah cerita teman sekontrakanku. Fitri namanya.

Mulai dari ceritaku, ya!
Waktu itu, aku mau pulang kampung, ke Sangatta. So, seperti biasa aku naik gojek ke terminal Lempake. Sampai di sana, aku mendengar para supir angkot meneriakiku. "Mbaknya, kalau ke sini jalan kaki aja!" Itu ditujukan untukku, setelah aku membayar dan Gojeknya pergi.
Seketika aku menoleh, lalu kuputuskan untuk tidak menghiraukannya.

Sambil berjalan terus menuju Bus tujuan Sangatta, aku dihampiri oleh bapak-bapak. Aku enggak ngerti beliau siapa, intinya beliau bilang, "Mba, Kalau mau kesini ya naik angkot. Di sini tempatnya angkot. Kalau mau naik gojek, turun dari pinggir jalan raya. Jangan masuk terminal," tutur si Bapak.

YAELAAAAAH. Busetdah. Kaget, ternyata gitu, ya, peraturannya. "Oh, iya pak. Maaf saya enggak tahu," jawabku ketus. Teguran bapak-bapak itu membuatku menjadi pusat perhatian, dan seketika mood ku hancur! Di dalam bus, yang biasanya aku melontarkan senyum pada orang yang duduk di sampingku, saat itu aku hanya diam sambil berkutat dengan HP. Tiba-tiba, ada seorang ibu yang menegurku. "Mba, emang enggak boleh naik gojek sampai dalam terminal. Kena disariki lawan buhan angkot. Kemarin aku kejadian jua soalnya," tukas si Ibu. Aku hanya membalas perkataan ibu itu dengan "iya bu, saya enggak tahu soalnya," udah. gitu aja. lagi bete soalnya. maaf ya bu.

Okeh, cerita ke dua!!!!
Ini ceritanya dari Fitri. Temen se-gue-gue-elo-elo-an kalau di kontrakan. Partner kamar. Partner ngomongin orang. Partner curhat. Partner tebeng-menebeng. DSB.

Saat itu, Fitri baru pulang dari Sangatta dan kembali ke Kota Tepian, Samarinda.
Doi memutuskan untuk naik Gojek menuju kontrakan. Fitri sudah pernah sebelumnya mengantisipasi kemarahan supir angkot bersamaku beberapa bulan lalu, saat kami balik menuju Samarinda bersamaan. Kami menunggu driver Gojek datang dari tempat yang agak jauh dari terminal. Biar enggak ketahuan sama supir angkot, kalau kami naik Gojek.

Back to story, si Fitri ini sempat diminta turun dan dikejar oleh supir angkot, lho!
Fitri cerita begini "Iyah Nem, (Nem: Panggilan SMP gue, ENEM) masa waktu gue udah naik gojeknya tuh, gue dikejar coba sama si tukang angkot. Emang awalnya udah diingetin sama supir angkot yang laen, katanya mbak, mbak, naik angkot mba, udah nunggu dari tadi. Ya tapi kan gue ga mau!! Terus si driver gojek baik banget, dia bilang mba, kalau mau turun enggak apa, mba. Ya tetep aja gue gamau terus gue bilang ih gamaugamaugamau sambil memalingkan muka ke arah lain biar enggak kelihatan si supir angkot yang ngejar. Terus yaudah deh, gue ama abang gojek pura-pura stay cool aja. Sumpah Nem, gue deg-deg-an banget disitu," Curahan hati seorang Fitri.

Nah, jadi begitu ceritanya, guys.

Dear para pencari nafkah, rejeki kita sudah diatur dengan baik oleh Allah. So, enggak perlu merasa penumpang/customer kamu diambil oleh orang lain. Sama sekali enggak perlu.
Semua sudah ada porsinya. Tinggal kita aja yang berusaha untuk menjalaninya dengan ikhtiar dan penuh kesabaran.

Tempel hadist ini dalam otak,

 Innallaha ma'assoobiriin "Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar"

Okay. Semoga curhatan ini bisa membuat beberapa hati orang untuk lebih terbuka akan rezeki yang sudah diatur oleh Allah. Aamiin Allahumma Aamiin.

Sekiaaaan. Mohon maaf jika banyak salah kata. Bye~












Selasa, 21 Februari 2017

Ups! ZONA BAPER!

Pernah enggak sih, kamu berada dalam zona baper-se-baper-bapernya-baper? Kalau aku sih, sering. But, bapernya cukup dalam hati. Enggak mau umbar sana sini apalagi sampai menunjukkan mimik wajah kalau lagi baper. Jangan sampai.

Kali ini, aku sudah kelewat baper. Gimana sih, rasanya ketika kamu udah ngerasa memberikan kebaikan sepenuhnya sama orang. Tapi sebaliknya kamu malah enggak pernah dingertiin dan dihargai? Ya, simpulkan aja sendiri gimana rasanya. Enggak enak untuk dijabarkan.

Ini bukan masalah terlalu baper atau gimana, tapi ini memang tentang perasaan. Ini hati, bukan batu bata. Ini hati, susah buatnya. Enggak kayak batu bata, yang kalau hancur bisa dicetak lagi. Ini hati, bukan kertas. Yang bisa seenaknya dicorat coret terus di ubek-ubek dan dilempar.

Ketika kamu berada dalam posisi pengin marah pake banget, tapi enggak bisa. Gimana sih rasanya? Nyesek banget kan?
Feels like, my heart is in my throat. He-he. Rasanya tenggorokan kayak tesumbat eh~ susah napas.

Aku yakin, semua orang pernah ngalamin posisi ini. Dan bahkan, sedang mengalaminya. Who knows?

Enggak tau kenapa. Ya pengin aja nulis ini. Barangkali bisa sedikit menenangkan ketika tulisanmu dibaca oleh orang lain. Meskipun tanggapannya akan berbeda-beda.

Intinya, untuk siapa pun. Meskipun merasa enggak dihargai, jangan pernah putus untuk melakukan kebaikan. Jangan pernah jadi jahat. Boleh jahat, tapi enggak boleh nyakitin hati orang lain. Hayo, gimana tuh caranya? Hahahaha. Aku juga lagi belajar untuk itu.

So, mari saling berbuat kebaikan, tanpa memandang respon orang apa nantinya. Yang penting kewajiban untuk menjadi baik sudah terlaksana. Baper boleh, asal tetap di lingkaran. Wkwkwkw.

Bye





Kamis, 09 Februari 2017

SAKIT GIGI ON THE WEEKEND!

HARUS BACA BUAT YANG SAKIT GIGI.

Sakit Gigi On The Weekend! (Sakitnya Hilang dalam 5 menit)

Tepat hari ini, pagi ini, sakit gigi kembali melanda.
SUWAKID BUWANGED COY.
Padahal, sudah mau berangkat ke kantor. Tapi gara gara sakit banget sampai teriak-teriak, akhirnya kuputuskan untuk baring dulu sebentar sambil nungguin Sukma beliin obat sakit gigi di Apotik terdekat.

Sedikit berbagi cerita, jadi empat tahun yang lalu, tepatnya saat masih duduk di bangku kelas tiga SMP, aku kan pakai behel tuh. Dan kata dokter harus cabut 4 gigi biar ada ruang untuk gigi yang lain untuk menjadi rapi. Ya gitu lah pokoknya.

Jadi, aku fix cabut empat gigi. Dua di atas, dua di bawah. Lalu tibatiba bapak aku bilang "Kalau giginya ada yang bolong, di tambal segera aja, Dok".

Yasudah, akhirnya gigi yang bolong ditambal manja oleh dokter Sri Rezeki yang kerap disapa Dokter Hani.

Selang empat tahun, kejadiannya baru sebulan yang lalu.
Tambalan gigi itu lepas alias jadi kayak keropos. Padahal aku enggak pernah lupa sikat gigi! Tapi makan batu iya. Ehe ehe ehe. Garink.

Oke ini serius, aku enggak pernah lupa sikat gigi karena aku pakai behel. You know lah kalau pakai behel terus habis makan itu keadaannya gimana. But, tiba-tiba aja gigiku jadi bolong. Hwaaa!

Awalnya samsek gasakit. Cuma rada risih karena udah lama gigi enggak ada yang bolong. Selalu ada yang nyangkut tiap makan.

Karena enggak pernah sempat ke dokter gigi untuk tambal, jadi makin lama ini gigi makin sakit. (Fyi, dokter gigi behelku cuma menangani ortodonti, alias cuma khusus behel, jadi enggak bisa tambal gigi dengan beliau).

Sakit bangetngetnget. Nyutnyutnyut.
Kalau sudah sakit gigi begini, pikiran cuma satu,
"Ya Allah, mendingan sakit hati deh. I hope this is the last"
Padahal kalau lagi sakit hati pasti mikirnya gini, "ya Allah, mending sakit gigi deh. Sakit hati bikin ngebatin". Ah dasar. Manusia.

Singkat cerita, sekitar 15 menit berlalu.
Aku masih terbaring unyu di kasur tingkat sambil meringis ringis manja dengan memegang indah pipi sebelah kiriku.
Tiba-tiba, datang seorang perempuan coklat manis membawa obat cina. Namanya Obat Sakit Gigi Cap Kakak Tua.
Sesuai request. Wk wk wk.

And should u know, readers. Dalam sekejap saja, sakit gigi itu hilang!
Enggak nyangka, harganya cuma 10k, lho!
(Wakakaka lebay)
Obatnya kecil imut kayak badanku.
Dioleskan ke kapas, terus kapasnya ditaruh di gigi yang bolong.
Pedes gitu obatnya. Gak enak.
Tapi yauda enakin aja, daripada sakit gigi.
Terus kan itu enggak enak banget obatnya, jadi aku lepas kapas itu.
Daaaan, wow.
Alhamdulillah sakitnya hilang.
Keren.
Terima kasih kepada makhluk yang telah membisikkan obat recommended seperti ini. Thank you thank you thank you. Homina homina homina.


Foto by: Fira
Ini namanya obat Sakit Gigi Cap Kakak Tua. Tulisannya cina. Enggak ngerti. Bikin PR untuk memahaminya. Intinya itu lah namanya. Cari aja di apotik pasti ada.

Minggu, 23 Oktober 2016

Impossible to understand, without ever feeling. (Tidak mungkin mengerti,tanpa pernah merasakan)

     Halo insan yang sangat suka memandang orang dari sudut pandang sebelah mata,
hai makhluk yang sangat suka mengambil kesimpulan tanpa filter terlebih dahulu,
haruskah aku menulis setiap proses dalam kehidupanku agar kau tahu betapa bersikerasnya aku untuk selalu memperbaiki diriku?

Apakah kamu fikir sebegitu bodohnya aku hingga tak tahu batas dan aturan dalam kehidupan? Apakah kamu fikir aku hidup di dunia untuk menjadi manusia yang tidak berguna sama sekali?

     Meskipun aku masih 18 tahun hidup di dunia ini, aku sudah cukup banyak mendapat banyak pelajaran untuk terus melanjutkan hidup menjadi orang yang baik kedepannya. Kurasa setiap manusia pasti ingin menjadi orang yang baik, termasuk aku.

      Dan sekarang,begitu banyak pertanyaan yang ingin ku lontarkan kepadamu. Apakah setiap urusanku itu penting bagimu? Dan apakah penting bagimu untuk mengurusi jalan hidupku? Baiklah. Menasihati satu sama lain memang tugas dari manusia, namun kembali pada yang paling utama, setiap manusia memiliki HAK atas privasinya. Menasihati boleh, melarang bahkan mengekang jangan. Bukan tidak suka dinasihati, aku sangat suka. Itu menandakan Tuhan dan kau masih sangat menyayangiku.

     Namun, lagi-lagi kembali pada yang utama. Kita hidup masing-masing, dan amal perbuatan ditanggung masing-masing. Kalau saling sibuk mengurusi nasib dosa orang lain, tidak akan ada habisnya. Bukankah kita semua sudah mengerti bahwa kita punya privasi dan jalan hidup masing-masing? Bukankah kau sendiri yang meminta aku untuk bertingkah dewasa? Bukankah ini maumu?

     Hai! Aku sudah berusaha untuk selalu keluar dari zona nyamanku,tahu. Aku berusaha untuk tidak menjadi manusia yang begitu-itu saja. Aku berusaha untuk selalu mencoba hal yang baru. Meskipun begitu,sekali lagi yang aku tekankan, aku masih punya otak dan ingatan untuk selalu berada dijalan kanan. Aku masih punya Tuhan dan masih tertancap di otakku sampai sekarang bahwa kita hidup hanya untuk berbakti pada Tuhan yang menciptakan kita.

   . Lebih baik, ayo, bersama-sama, kita mengurusi diri sendiri. Jangan sampai kita menjadi pribadi yang sibuk mengurusi urusan orang lain, sampai-sampai lupa mengurusi diri sendiri. Dan satu lagi, jangan pernah menilai sebuah buku dari sampulnya. Boleh jadi apa yang kamu lihat buruk diluar, ternyata sangat indah didalamnya. Dan begitupun sebaliknya, tudak menutup kemungkinan apa yang kamu lihat diluar sangat baik, ternyata malah sangat busuk didalamnya.

Jadi, inti dari tulisan fira  disini adalah;
1. Jangan pernah menilai orang dari sebelah mata, sekali-kali gunakan pikiran dari pandangan orang lain. Sekali-kali sebelum kau berbicara, fikirkan terlebih dahulu, "bagaimana perasaannya ketika nanti aku berkata seperti ini?" Jangan EGOIS.
2. Hargai PRIVASI orang lain.
3. Tidak perlu repot mengurusi dan mengomentari masalah orang lain. Karena kamu tidak pernah tau persis apa yang terjadi didalam diri orang lain, sebelum kamu merasakannya sendiri. Because it's impossible to understand, without ever feeling.

     Ditulis oleh perempuan 18 tahun yang katanya masih kecil, padahal sudah memasuki tahun ke-4 hidup sendiri dan jauh dari orang tua dan keluarga.